Tampilkan postingan dengan label CERPEN KARANGAN ERLINDA (KAKAK SAYA). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN KARANGAN ERLINDA (KAKAK SAYA). Tampilkan semua postingan

CERPEN

Tersenyum Untuk Sebuah Kemenangan
Tepat tiga tahun lalu, aku bertemu dengan beberapa orang pemuda yang tidak pernah kusangka akan mengisi sebagian perjalanan hidupku. Pemuda-pemuda itu berasal dari kalangan yang sama. Mereka merupakan benteng utama pertahanan negara. Di balik tegas dan kerasnya pendidikan yang dijalani, mereka selalu menunjukkan sikap yang ramah dan bersahabat. Aku dan keluargaku yang bukan dari kalangan berada, merasa nyaman dengan perlakuan mereka yang sopan dan menyenangkan. Kami merasa dihargai oleh mereka.
Di antara banyak pemuda yang hadir dalam waktu yang bersamaan itu, aku hanya tertarik pada seorang pemuda. Dia berkulit hitam dan berpostur tegap. Dia terlihat gagah dengan atau tanpa seragamnya. Dia begitu akrab dengan orangtua dan adik-adikku. Di balik setiap senyuman dan tatapan matanya, aku dapat melihat bahwa dia merasakan hal yang sama dengan apa yang kurasakan. Dia bernama Galang.
Namun, aku begitu bodoh. Aku memilih untuk menjalin hubungan dengan temannya yang tidak pernah memasuki pintu hatiku. Saat itu, aku hanya dapat menikmati setiap candaan dan persahabatan yang kujalin dengannya. Hingga akhirnya, waktu perpisahan itu tiba. Aku kehilangan sahabat yang mampu memasuki ruang di hatiku yang telah lama kosong.
Setahun tanpa kabar dari Galang. Hubunganku dengan temannya juga telah berakhir lama dengan menyisakan segores luka karena pengkhianatan yang tidak pernah kuharapkan terjadi padaku. Aku pun mulai berpikir untuk mencari tahu kabar tentang diri Galang. Sungguh bukan hal yang mudah. Tanpa nomor telefonnya, alamat rumahnya, dan alamat emailnya. Aku hanya mengetahui nomor Yudho, salah satu temannya, yang dapat kupastikan tidak akan memberikanku informasi apapun.
Aku pun memulai kenekatanku. Aku menghubungi Yudho dengan menggunakan alasan “salah sambung”. Percakapan via pesan singkat pun terjalin. Aku mulai mencari celah untuk menanyakan kabar Galang.
Dia pun menceritakan keadaan Galang. Sebelum mengakhiri pembicaraan kami, aku berpesan padanya untuk tidak mengatakan kepada Galang bahwa aku menanyakan kabar tentang dirinya. Namun, dia tidak menggubris pesanku. Tepat pada tanggal 19 Juni 2010, Galang menghubungiku dan komunikasi yang sempat terputus itu terjalin kembali.
Komunikasi di antara kami terjalin dengan baik walaupun telefon genggamku sempat rusak. Namun, kami tetap saling memberi kabar. Pada malam hari di tanggal 21 Juni 2010, aku dan Galang bersepakat untuk menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Sungguh malam itu tidak akan pernah kulupakan. Malam itu merupakan sebuah malam yang paling membahagiakan dalam hidupku. Aku tidak pernah menangis bahagia sebelumnya, tapi malam itu air mata mengalir deras dalam sujudku. Aku merasa bersyukur karena Galang menyatakan perasaan yang dipendam olehnya selama dia mengenalku. Aku begitu bersyukur karena aku mendapatkan seseorang yang kuyakini dapat menjaga amanah hatiku.
Hubungan kami terus berjalan dengan kerikil yang begitu banyak dan sulit untuk dilalui. Kami sering bertengkar karena hal yang sepele. Kerapkali aku tidak dapat memahaminya. Begitupula sebaliknya, dia sering kesal dengan sikapku. Pemikiranku yang masih belum dapat berpikir dewasa dan belum pandai menjalin hubungan yang serius selalu menuntutnya untuk memberikan perhatian yang lebih, padahal aku mengetahui bahwa tugas yang dipikulnya begitu berat.
Galang bukan pemuda yang romantis dan pandai merangkai kata-kata rayuan yang indah. Namun, aku kerap kali menuntutnya untuk menjadi romantis. Dia tidak penah mengeluh, tidak pernah pula membentakku walaupun dia merasa begitu kesal padaku.
Dua minggu hubungan itu terjalin. Kerikil-kerikil itu mulai kami bangun menjadi sebuah hubungan yang begitu indah. Aku mulai belajar menjadi wanita dewasa. Aku mulai menjajaki setiap keinginannya.
Pada suatu malam, Galang menceritakan mengenai mantan pacarnya yang bernama Diana. Dia menyatakan bahwa hubungannya dengan Diana berakhir beberapa bulan sebelum kami menjalin hubungan kasih. Dia menceritakan bahwa orangtua Diana menghubungi dan meminta agar dia bertandang ke rumah Diana. Kemudian Galang meminta izin padaku untuk menemui keluarga Diana.
Aku merasa dalam posisi yang begitu sulit. Aku ingin melarang Galang pergi menemui orangtua Diana. Namun, aku merasa bahwa keputusanku untuk melarangnya merupakan hal yang paling egois.
“Nggak apa-apa kalau Abang mau ke rumah Diana. Adek cuma pesan sama Abang, tolong Abang jangan lupa kalau adek nunggu Abang di sini!” ucapku dengan nada yang tertahan.
Itulah jawabanku yang kusampaikan dengan harapan bahwa dia akan membatalkan niatnya untuk menemui orangtua Diana. Sebuah harapan yang tidak tercapai untukku. Dua hari kemudian, Galang kembali ke Bekasi, setidaknya itulah kabar yang dikatakannya. Di dalam perjalanan dia terus menghubungiku, kami pun bermesra-mesra via telefon genggam.
Keesokan harinya, aku memutuskan untuk menunggu Galang memberi kabar padaku. Namun, satu harian tidak kudapati sebuah kabar apapun darinya. Kemudian aku dikagetkan dengan sebuah pemutusan hubungan yang tertulis di salah satu jejaring sosial. Aku terus berusaha menghubunginya dan menanyakan alasan tindakannya itu, tapi tak ada respon apapun darinya. Lalu kuminta teman kuliahku untuk menghubunginya dengan alasan “salah sambung” dan Galang langsung memberi respon dengan sikap penasaran. Sungguh hatiku merasakan sakit yang tidak dapat kugambarkan dengan kata-kata. Dia yang kupercayai mampu menjaga hatiku dan menyayangiku dengan tulus ternyata meninggalkanku tanpa alasan yang jelas.
Dua minggu kemudian, aku menyatakan kerinduanku pada Galang. Dia memberi respon ynag tidak pernah kuduga sebelumnya. Dia memberiku perhatian yang begitu terasa indah. Namun, itu hanya terjadi pada malam itu. Setidaknya dengan itu, aku semakin yakin bahwa hati Galang hanya untukku. Aku tahu bahwa aku telah menempati satu sisi hatinya dan itu tidak akan tergantikan.
Keputusan Galang yang begitu mendadak dan tanpa alasan yang jelas memang menyakitkan untukku, tetapi ada hal lain yang jauh lebih menyakitkan. Sebuah fitnah yang dilontarkan padaku. Fitnah yang menjadi cambuk untukku. Fitnah yang menguatkanku.
Tanggal 5 Agustus 2010, aku mengirimkan sebuah pesan singkat ke nomor Galang. Harapanku hanya satu yaitu Galang mengingat hari ulang tahunku pada tanggal 7 Agustus 2010. Aku mungkin patut menangis atau marah, ketika pesan singkat yang aku kirim dibalas dengan kata-kata, “Galang tidak mencintaimu. Kamu itu cuma pelariannya saja. Jangan ganggu Galang lagi! Dia itu sangat mencintaiku.”
Ya Tuhan. Andai Kau tahu rasanya hati ini, aku ingin memukul kepalaku dan berharap bahwa itu hanya mimpi buruk. Namun, aku hanya menarik nafas dan kujawab, “Maaf, kamu siapa? Kenapa nomornya Galang ada sama kamu ya? Kalau aku boleh tahu, nomornya Galang berapa?”
Walaupun wanita itu terus mencaci makiku, aku hanya bersabar hingga akhirnya aku mendapatkan nomornya Galang. Aku mencoba menghubunginya, tapi dia tidak merespon dan justru wanita itu yang kembali menghubungiku dan berkata, “Nggak direspon ya? Kasihan! Pasti mukanya merah karena malu.” Akupun hanya bisa mengelus dada.
Andaikan aku bisa menghapus memori itu, aku akan menghapusnya. Tanggal 7 Agustus 2010, temannya Galang yang merupakan mantan pacarku menghubungiku. Dia dan pacarnya memaki dan memarahiku tanpa adanya alasan yang jelas. Sepanjang pembicaraan di telefon, pacarnya memakiku dengan penuh emosi dan aku hanya tersenyum dan menjawab setiap tudingannya dengan tenang. Dia terus emosi dan mengatai aku sebagai mahasiswa yang tidak berpendidikan, wanita murahan dan berbagai cemoohan lainnya. Semua itu terasa begitu menyakitkan di telinga dan di hatiku. Namun, aku hanya tersenyum. Aku tahu bahwa dia telah kalah dengan amarahnya yang tidak terkendali.
Beberapa hari setelah itu, pacarnya Galang memaki-makiku pula. Dia mengatakan padaku bahwa aku wanita murahan yang pernah tidur dengan temannya Galang dan pernah dibayar oleh Galang untuk menemaninya selama satu malam. Dia mengatakan bahwa Galang yang menyatakan hal itu padanya.
Jika ada yang bertanya padaku, apakah aku merasa sakit hati, maka jelas aku akan menjawab aku sangat sakit hati. Namun, aku tetap tersenyum karena aku mengenal Galang. Dia tidak mungkin mengatakan hal semacam itu. Aku mengetahui bahwa wanita yang sedang dilanda emosi ini sedang berbohong. Sehingga aku tidak terlalu memikirkan fitnah yang disampaikannya padaku.
Jauh di lubuk hatiku, aku meyakini bahwa Galang akan kembali kepadaku. Namun, aku tidak ingin ketika dia kembali padaku, aku masih belum menjadi sesuatu yang patut dibanggakannya. Akupun ingin membuktikan kepada wanita yang memfitnahku bahwa aku bukanlah wanita murahan seperti yang dituduhkannya. Aku ingin menunjukkan bahwa seorang Linda yang sedang berdiri di hadapannya kelak, Linda yang pernah dicaci maki dan diremehkannya ini, dapat mengangkat dagu dan berkata, “Masihkah Anda mengenali saya?”
Itulah keinginanku. Aku tidak ingin membalas sakit hatiku dengan cara yang menyakitkan hatinya. Aku hanya ingin menunjukkan bahwa setiap cemooh yang dilontarkan kepadaku itu tidak ada buktinya. Aku ingin menjadi yang terbaik untuk Galang walaupun dia telah menyakiti hatiku. Oleh karena itu, aku memperbaiki diri. Aku mengubah sikapku, penampilanku dan semangat belajarku.
Katika kekuasaan itu dipegang, musuh bisa menjadi teman dan teman akan menjadi kerabat. Aku yakin, suatu saat wanita-wanita yang memusuhiku itu akan bersikap baik padaku jika aku dapat menunjukkan bahwa aku jauh lebih baik dari yang mereka bayangkan. Aku pun meyakini Galang akan kembali padaku dan menyesali setiap kesalahan yang dilakukannya. Saat Galang menyadari betapa aku sangat menyayangi dan menerima setiap luka yang digoreskannya, tidak akan ada amarah dalam hatiku. Aku telah memaafkannya. Saat dia kembali padaku, akan kubuka lebar tanganku dan kukatakan, “Selamat datang orang lama dalam babak kehidupan yang baru!”
Hari ini aku mungkin merasakan sakit akan sebuah fitnah dan peninggalan jejak yang tak jelas alasannya oleh Galang. Namun, di dalam sakit itu, aku tetap tersenyum. Aku tersenyum untuk menunjukkan kepada dunia bahwa aku baik-baik saja dan luka itu hanya sementara. Sehingga mereka yang melukaiku lelah dan terbakar oleh amarahnya. Saat itulah sesungguhnya kemenangan telah kuraih dan mereka masuk ke dalam kekalahan yang mutlak.
Saat ini, ketika aku menulis kisah ini, aku sedang menjalin kasih dengan Galang. Tahun lalu pada bulan Oktober, dia kembali padaku dan menyatakan keseriusannya terhadapku. Aku yang masih terus dan akan terus menyimpan cinta untuknya, menerima kehadirannya dengan sepenuh hatiku. Orangtua dan sanak saudara telah mengetahui hubungan kami. Hanya tinggal menunggu waktu di mana dia kembali dari tugasnya di Pulau Papua dan aku menyelesaikan studiku. Oleh karena itu, aku meminta doa restu kepada pembaca untuk kelancaran hubungan dan rencana kami ke jenjang yang lebih serius daripada sekedar berpacaran.
Kesabaran itu memang pahit, tapi buahnya sangat manis. Oleh karena itu, bersabarlah teman! Hari ini dan kemarin dapat diisi dengan kesedihan, tapi jangan isi hari esokmu dengan air mata juga!  Aku telah merasakannya dan aku selalu meyakini semua akan indah pada waktunya. Tersenyumlah dan katakan pada dunia “Aku akan menang dengan kesakitan ini”!

Penulis (saya) bernama Erlinda Matondang dan akrab dipanggil “Er” atau “Lin”. Saya merupakan wanita berdarah batak yang lahir di tanah Jawa pada tanggal 7 Agustus 1991. Saya bertempat tinggal di Karangasem Rt. 02/02, Karangasem, Laweyan, Surakarta, Jawa Tengah. Saat ini, saya merupakan seorang mahasiswa di Universitas Slamet Riyadi Surakarta jurusan Ilmu Hubungan Internasional. Jika ingin menghubungi saya, maka rekan-rekan dapat menghubungi saya di email saya, erlinda.maharani@yahoo.com. Beberapa karya saya baik yang berupa fiksi maupun non-fiksi dapat dilihat di erlindamatondang.blogspot.com. Namun,untuk karya ini tidak akan ditemukan di sana hanya saja rangkuman pesan singkat yang ada di dalam cerita ini dapat dilihat di karya saya yang berjudul “Sebatas SMS”.

CERPEN

Sesumbar Janji Untuk Seribu Wanita
Janji akan sebuah pernikahan merupakan sesuatu yang suci dan begitu diinginkan oleh setiap wanita, termasuk diriku. Sayangnya, tidak semua janji pernikahan yang disampaikan pria itu berisi kesungguhan hatinya. Aku pun menjadi salah satu korban janji palsu akan sebuah pernikahan dari seorang pemuda yang tidak memunyai hati.
Pemuda yang memberikan janji palsu padaku itu, bernama Widiyan. Dia bukan pemuda yang tampan. Bukan pula pemuda yang kaya atau memunyai kemampuan khusus. Aku menerimanya untuk menjadi pacarku karena dua alasan, yaitu pangkatnya yang lebih tinggi dari mantan-mantanku sebelumnya dan bayangan Galang yang selalu muncul setiap kali aku dengannya.
Aku dikenalkan dengan Widiyan via telefon oleh ibu dari salah satu temanku. Sepanjang dua minggu kami berkomunikasi via telefon hingga akhirnya aku memutuskan untuk datang ke Jakarta. Niatku untuk ke Jakarta didukung oleh kabar yang menyatakan bahwa Galang dan beberapa temannya juga akan datang ke Jakarta. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk datang ke Jakarta. Setidaknya aku dapat bertemu dengan Galang. Itulah yang menjadi harapanku.
Namun, harapanku tidak tercapai. Berita kedatangan Galang itu tidak benar. Di waktu itulah, ibu dari temanku yang memperkenalkanku dengan Widiyan, mempertemukanku dengannya. Sejujurnya aku tidak merasakan apapun ketika bertemu dengannya. Dia terlihat biasa saja dan tidak memunyai hal apapun yang mampu menarik perhatianku.
Malam harinya adalah malam minggu. Widiyan mengajakku ke beberapa tempat di Jakarta. Dia menggandeng tanganku dan bersikap seperti seorang pemuda yang ingin melindungi pasangannya. Aku menghargai itu dan merasa takjub dengan apa yang telah dilakukannya. Aku tidak pernah diperlakukan seperti itu sebelumnya.
Ketika kami ke Monas, aku berjalan tepat di belakangnya dengan tangan yang masih dipegang erat olehnya. Sekelebat, aku melihat bayangan Galang dalam dirinya. Mungkin aku salah karena menganggapnya sebagai Galang. Namun, itu yang kudapati setiap kali aku bersamanya.
Keesokan harinya kami bersepakat untuk menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Hubungan ini berjalan terus tanpa ada hambatan. Walaupun terkadang aku merasa bosan di saat dia terus bercerita mengenai mantannya, aku tetap mendengarkan curahan hatinya. Walaupun aku masih sering dibayangi oleh anganku tentang Galang, aku masih terus belajar mencintainya dengan sepenuh hatiku.
Menjelang dua bulan masa kami berpacaran, dia mendapatkan tugas untuk masuk ke dalam anggota UNIFIL di Lebanon. Demi kelancaran tugasnya, aku berpuasa dan terus mendukungnya selama proses pelatihan. Dia pun menyatakan keseriusannya untuk menikahiku kala itu.
Sebagai seorang wanita, aku merasa bahagia mendengar pernyataannya itu. Walaupun aku masih belum dapat melupakan Galang, aku meyakini bahwa dia akan mampu membahagiakanku. Di mataku, dia merupakan pemuda yang paling bisa membuatku tersenyum. Dia pandai merangkai kata-kata yang dapat membuatku merasa dilambungkan hingga ke langit ke tujuh. Aku pun terbuai dan terlena dengan semua rayuannya.
Pertengkaran pertama kami terjadi setelah tiga bulan berpacaran. Seorang wanita dari masa lalunya dan diakuinya sebagai orang yang pernah menolak cintanya hadir dalam hubungan kami. Wanita itu bernama Mala. Aku dapat merasakan bahwa Widiyan masih menyukai Mala, tetapi dia tetap bersikeras untuk mengajakku ke rumahnya dan memperkenalkanku dengan orang tuanya.
Bulan Agustus 2011, aku berangkat ke Madiun untuk menemui Widiyan yang menungguku di rumahnya. Semua itu kulakukan sebagai bentuk penghormatanku atas keinginannya menikahiku. Untuk itu, aku membayar mahal. Aku harus bertengkar dengan mamaku yang tidak pernah menyetujui hubunganku dengan Widiyan.
Setelah kunjunganku ke Madiun, hubungan kami justru semakin merenggang. Selain orangtuaku yang tidak menyetujui hubungan kami, orangtua Widiyan pun menunjukkan sikap yang sama. Sikap orangtua Widiyan itu disebabkan oleh ramalan seorang paranormal yang menyarankan kami untuk berpisah.
Pada awalnya, aku memperjuangkan hubunganku dengan Widiyan. Berbagai upaya untuk mengambil hati orangtuaku dan orangtuanya kulakukan. Setelah aku menyadari bahwa aku berjuang sendirian dan Widiyan tidak melakukan apapun, aku mulai belajar untuk melepaskannya. Hal tersebut mungkin tidak terlalu menyakitkan untukku. Namun, aku merasakan sakit yang begitu dalam ketika aku tidak dihargai olehnya.
Dalam suatu pembicaraan via telefon, Widiyan tiba-tiba saja memutuskan percakapan tanpa pamit dan kala itu aku sedang berbicara. Aku mengira bahwa dia akan menghubungiku kembali, tetapi aku salah. Dia tidak memedulikanku. Justru aku menemukannya sedang asyik mengobrol ria dengan Mala. Aku pun mulai merasakan darahku mendidih. Aku merasa tidak dihargai.
Akupun mencoba berpikir positif mengenai peristiwa itu. Aku melupakan rasa sakit hatiku. Aku memaafkan apa yang telah dilakukannya padaku. Hubungan kami mulai membaik untuk sementara waktu.
Bulan September 2011, merupakan fase genting di dalam hubungan kami. Aku diminta olehnya untuk membantunya membuat sebuah karya tulis yang akan diikutsertakan dalam sebuah lomba yang diadakan kantornya. Karya tulis ini minimal harus terdiri dari 40 halaman dengan batas pengumpulannya pada tanggal 30 September 2011. Sepanjang September 2011, dia sering menghubungiku khusus untuk menanyakan apakah karya tulisnya sudah selesai atau belum. Selebihnya dia tidak pernah menghubungiku lagi. Aku merasa dikejar-kejar oleh hutang yang harus segera kulunasi.
Aku pun menyelesaikan makalah itu pada minggu pertama bulan September 2011. Aku langsung mengirimkan karyaku itu kepadanya melalui email. Setelah mendapatkan makalah yang diminta, dia tidak pernah menghubungiku. Sekalipun dia menghubungiku hanya di saat dia ingin berdiskusi mengenai isi makalah dan belajar bahasa Inggris untuk persiapan keberangkatannya ke Lebanon. Kala itu, aku merasakan bahwa hubunganku dengannya sudah tidak sehat. Aku hanya dimanfaatkan saja.
Bersamaan dengan kejenuhanku terhadap hubunganku dengan Widiyan, Galang kembali menghubungiku. Dia tidak langsung menyatakan perasaannya padaku. Kami bersikap seperti dua orang yang bersahabat dan menjajaki jalan untuk membentuk hubungan yang lebih dari sekedar sahabat. Aku mengetahui arah setiap pembicaraan yang disampaikan Galang padaku. Walaupun dia tidak menyatakan rasa sayangnya, aku mengetahui apa yang diharapkannya. Aku pun melakukan shalat istikharah.
Setiap aku selesai shalat istikharah, aku selalu mendapati bayangan Galang di pelupuk mataku. Hatiku dengan mudah terlepas dari Widiyan. Akhirnya aku mengambil keputusan untuk mengakhiri hubunganku dengan Widiyan.
Tepat enam bulan kami berpacaran, aku menghubungi Widiyan untuk menyatakan keputusanku. Dia bersikeras untuk mempertahankan hubungan kami, tetapi aku menolak. Dia sempat menelfonku dan memohon agar aku bersedia menjalin kembali hubungan kami. Aku tetap pada pendirianku. Dia pun berkata, “aku akan selalu mencintaimu”, di akhir pembicaraan kami.
Manisnya kata-kata itu tidak sesuai dengan kenyataannya. Seusai dia menyatakan bahwa dia akan selalu mencintaiku, keesokan harinya, dia berpacaran dengan Mala. Aku pun hanya tersenyum dengan segenap kekesalan di hatiku. Kala itu, aku sudah menjalin hubungan selama satu minggu dengan Galang.
Aku marah padanya. Bukan karena aku merasa cemburu dengan hubungan mereka. Aku hanya merasa menyesal karena semua perbuatanku pada orangtuaku yang kulakukan untuk membela manusia seperti Widiyan. Sungguh tidak ada gunanya.
Hal yang paling membuatku terpukul dan sakit hati adalah pengakuan Mala yang kudapatkan belakangan ini, di saat hubungan Mala dan Widiyan sudah kandas. Fakta yang kudapatkan, Widiyan menemui Mala saat dia berada di Solo, selemu menemuiku. Dia berkata bahwa dia berada di Yogyakarta untuk menghadiri acara yang diadakan keluarga atasannya. Namun, ternyata dia menghabiskan waktunya dengan Mala. Selain itu, wanita yang diakui Widiyan sebagai mantannya dan bernama Wulan mengatakan bahwa mereka masih menjalin hubungan hingga saat ini.
Mereka semua sama sepertiku. Widiyan menjanjikan mereka sebuah pernikahan sepulangnya dari Lebanon. Aku bersyukur karena fakta-fakta itu kutemukan ketika aku menikmati indahnya impianku dan Galang untuk bersatu. Aku tidak merasakan luka yang begitu dalam. Aku hanya merasakan penyesalan karena pernah memperjuangkan orang yang salah. Widiyan adalah orang yang tidak pantas untuk diperjuangkan.
Aku sudah menghapuskan setiap kenanganku dengan Widiyan. Sekalipun dia dalam keadaan yang berbahagia, aku mengetahui bahwa karma akan menghampirinya. Hidup itu tidak seindah yang direncanakannya. Dia dapat berkata pada setiap wanita bahwa dia akan menikahi wanita tersebut, tapi hanya Tuhan yang tahu siapa yang menjadi jodohnya kelak. Sungguh aku meyakini kekuasaan Tuhan. Setiap perbuatan Widiyan akan dibalas oleh Tuhan dengan balasan yang setimpal.
Hidupku yang sekarang sudah cukup bahagia . Aku tidak ingin merusaknya dengan memikirkan apa yang terjadi pada Widiyan. Aku hanya menginginkan setiap detik dalam hidupku berjalan dengan baik. Biarlah Widiyan mengumbar janjinya kepada wanita mana pun! Aku tidak peduli. Suatu saat, dia akan bertemu denganku. Di saat itu, aku ingin melihat seberapa besar keberaniannya untuk menatap wajahku dan menegurku, wanita yang pernah dipermainkannya.



Penulis (saya) bernama Erlinda Matondang dan akrab dipanggil “Er” atau “Lin”. Saya merupakan wanita berdarah batak yang lahir di tanah Jawa pada tanggal 7 Agustus 1991. Saya bertempat tinggal di Karangasem Rt. 02/02, Karangasem, Laweyan, Surakarta, Jawa Tengah. Saat ini, saya merupakan seorang mahasiswa di Universitas Slamet Riyadi Surakarta jurusan Ilmu Hubungan Internasional. Jika ingin menghubungi saya, maka rekan-rekan dapat menghubungi saya di email saya, erlinda.maharani@yahoo.com. Beberapa karya saya baik yang berupa fiksi maupun non-fiksi dapat dilihat di erlindamatondang.blogspot.com.

CERPEN

Jumat, 20 Juli 2012
Malam ini adalah malam pertama di bulan Ramadhan. Setidaknya itulah hasil keputusan pemerintah dalam menetapkan awal jatuhnya bulan Ramadhan. Aku bersyukur karena diriku masih dapat bertemu dengan bulan suci Ramadhan. Aku merasa beruntung karena Allah masih memberikan kesempatan untukku setelah kusia-siakan Ramadhan tahun lalu hanya untuk perbuatan yang tidak disukai-Nya.
Kakiku melangkah ke masjid dengan ringan dan penuh tekad di hati. Aku bertekad untuk membayar semua kesalahanku di Ramadhan tahun lalu. Aku bertekad untuk meraih kesempurnaan dalam bulan yang penuh berkah ini.
Shalat tarawih pun digelar. Aku dan kedua adik perempuanku memosisikan di shaf terdepan. Di dalam shalat jamaah itu, aku merasakan bahwa Ramadhan kali ini benar-benar terasa indah. Aku bersyukur karena Allah masih membimbingku yang penuh dosa. Allah pun masih memberikanku banyak nikmat kesehatan, keselamatan dan kesejahteraan. Bahkan, kasih sayang yang berlimpah dari orang-orang di sekitarku.
“Ada dua keuntungan puasa di bulan Ramadhan, yaitu menyehatkan tubuh dan mendekatkan diri kepada Allah.”
 Itulah kesimpulan kultum yang disampaikan pada waktu di sela-sela shalat tarawih dan witir. Aku pun merasakan hal itu beberapa tahun lalu sebelum aku merasakan kenikmatan dunia yang membawa sengsara di hati, yaitu CINTA.
Insya Allah, puasa yang kujalani pada tahun 2012 ini akan membawa berkah, rahmat dan hidayah untukku. Sehingga aku dapat menjadi manusia yang lebih baik dan wanita yang sholehah. Segenap niat dalam hatiku untuk berkerudung dan memperbaiki diri memacu semangatku untuk berjuang melewati berbagai macam rintangan yang hadir di hadapanku. Aku yakin jika ada kemauan pasti akan ada jalan.
***
Sabtu, 22 Juli 2012
Cobaan muncul di awal puasaku hari ini. Astaghfirullah! Pulsa di kartu ponselku berkurang sebesar Rp 2.000,00, padahal aku tidak menggunakannya. Walaupun aku harus menerima kenyataan bahwa aku tidak dapat menghubungi Novri, pacarku atau siapapun, aku berusaha ikhlas. Alhamdulillah, aku mendapatkan sejumlah bonus SMS sampai jam lima sore dan internet selama satu jam lebih.
Sejumlah bonus yang diberikan operator seluler kepadaku, aku mengirimkan SMS ucapan permintaan maaf. Aku mengirimkan SMS itu ke beberapa temanku dan orang yang pernah kenal denganku, terutama pada Ratih dan Nopi. Aku pernah menyakiti hati Ratih karena menuduhnya telah mengambil pacarku tahun lalu. Kala itu bukan Novri yang menjadi permasalahan, melainkan Taufiq. Dia adalah mantanku yang aku perjuangkan hingga aku melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku pada bulan Ramadhan tahun lalu. Ternyata, aku salah sangka dan justru Taufiq yang meng-kambing hitam-kan Ratih dalam hubungan kami. Dia pun mencampakkan Ratih setelah memacarinya selama enam bulan. Aku bersalah pada Ratih karena aku menuduhnya melakukan hal yang tidak pernah dilakukannya. Kami berdua merupakan korban.
Aku juga meminta maaf kepada Nopi. Walaupun dia pernah menyakitiku, aku tahu bahwa aku pun pernah melukai hatinya. Apalagi setelah dia mengetahui bahwa aku menjalin hubungan dengan teman dekatnya saat ini.
Dalam jejaraing sosial, aku mendapati mantan pacar Novri menuliskan sesuatu di profil Novri. Ya Allah, sungguh aku cemburu bukan main. Rasanya ada api yang membakar dadaku. Namun, aku menahan amarahku yang biasanya mudah untuk meledak. Aku mulai berpikir positif.
“Tidak ada salahnya kan kalau tali silaturahmi tetap dijaga? Novri sudah memillihmu dan wanita itu sudah bersuami, maka tidak masalah bukan jika mereka berkomunikasi? Lagipula Novri belum tentu menjadi suamiku. Jika Novri memang jodohku, aku tidak perlu marah-marah, Tuhan pasti akan mengikatkannya denganku suatu saat nanti,” bisikku dalam hati.
Inilah pertama kalinya, aku dapat menjaga diriku dari amarah. Apalagi aku kemudian memutuskan untuk menjadi teman dari mantan pacar Novri  itu. Aku mencoba menjadi manusia yang lebih baik dan untuk itu aku harus menjalankan niatku dengan totalitas. Saah satunya adalah menjadikan orang yang membuat hatiku buruk sangka menjadi teman, agar aku dapat lebih mnegenalnya dan hubungan persaudaraan dapat semakin meluas.
Rasanya ada ketenangan yang menyusup ke dalam hatiku. Aku merasa ada sedikit beban di hatiku. Walaupun hari itu, Novri hanya membalas SMS-ku satu kali, aku tetap merasa tenang. Padahal biasanya, jika dia bersikap seperti itu, aku bisa marah tidak menentu—berbagai prasangka buruk menghantuiku. Namun, kali ini aku dapat berpikir positif.
Waktu terus bergulir dan menjelang maghrib, aku dan adik-adikku mendapatkan secangkir es lengkong dari mama. Beliau membuatkannya untuk kami yang berpuasa. Tidak hanya es lengkong, di meja makan terhidang pula sepiring ubi dan tape goreng. Untuk lauk makan pun, mama memasak ikan bandeng dan sambal terasi dilengkapi dengan sayur sop.
Dahaga pun hilang seketika saat air es masuk ke tenggorokan. Lapar pun hilang ketika sepotong ubi masuk mengisi perut yang tengah kosong. Saat itu pula aku terbayang pada kehidupan kami yang dulu. Hidup yang begitu sulit. Di saat orang lain bisa memakan nasi dengan nikmatnya, kami hanya dapat menelan air putih untuk sarapan. Itulah kehidupan. Namun, sekarang keadaan keluargaku sudah jauh lebih baik. Walaupun makanan yang di hadapanku ini bukan makanan mewah, fungsinya untuk melepaskan dahaga dan lapar sangat istimewa untukku. Aku bersyukur dengan rezeki yang kuterima dari Allah hari ini.
“Tarawih! Tarawih!” ujar adikku.
Aku masih sibuk merapikan al-Qur’an yang baru saja kupakai mengaji. Kubuka mukenaku dan kuambil air wudlu. Aku hanya ingin memastikan bahwa diriku masih dalam keadaan bersih dan suci dari najis saat kulangkahkan kaki di masjid nanti. Kemudian aku kembali ke kamar. Kuambil sisir dan kuikat rapi rambutku. Lalu kupasangkan kembali mukena yang tadi kulepaskan.
“Ma, infak!” teriak Rizka, adikku yang bungsu.
“Infak kok minta? Yang namanya infak itu dari uang sendiri disisihkan untuk orang lain,” ucapku.
“Biarin toh! Biar mama yang infak, aku yang masukin ke kotak infaknya!” ujar Rizka.
Aku hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Aku tidak tahu harus berkata apa untuk menjawab pernyataan Rizka itu. Dia memang selalu memunyai segudang jawaban untuk menyanggah berbagai macam pernyataan yang ditujukan padanya.
“Di akhirat, yang membedakan seorang manusia dengan manusia lainnya bukan harta kekayaan, kecantikan ataupun kedudukan, melainkan keimanan. Oleh karena itu, jadilah orang yang beriman sehingga hidup kekal di akhirat dapat dinikmati dengan kebahagiaan yang kekal pula.”
Itulah isi kultum malam ini. Isi kultum yang semakin memacuku menjadi yang lebih baik dan lebih beriman. Aku bukan gadis yang cantik, kaya dan berkedudukan tinggi sehingga aku tidak menang dalam pertarungan di dunia. Namun, aku ingin menjadi gadis yang sholehah, wanita yang sempurna sebagai seorang anak, sahabat, saudara, istri dan ibu. Hanya dengan itu, aku dapat menjadi pemenang di akhirat. Kala itu pun kemenangan akan membawaku kepada hadiah kenikmatan yang kekal dari Sang Maha Pencipta. Allahumma Aamiin.
***
Minggu, 23 Juli 2012
Hari ini, aku mendapatkan sebuah kejutan yang tidak mengenakkan dan justru menyakitkan hati. Siapa yang hatinya tidak hancur mengetahui bahwa orang begitu dipercayainya telah memberi seonggok kebohongan yang tersimpan begitu lama? Aku rasa tak seorang pun yang akan terima diperlakukan demikian.
Hari ini, aku dan Diana, mantan dare Novri, saling bertukar cerita mengenai hubungan kami dengan Novri. Dare cerita di antara kami, aku mendapati bahwa Novri telah berbohong kepadaku mengenai beberapa hal terkait dengan Diana. Bukan hal baru untukku jika dia berbohong, tapi rasa sakit di hati itu tetap saja ada. Apalagi sebelumnya aku telah mengatakan padanya bahwa aku tidak suka dibohongi. Aku pun sudah mengatakan padanya bahwa aku hanya meminta dia untuk jujur walau sepahit apapun kenyataannya.
Menyadari aku telah dibohongi oleh Novri, tiba-tiba air mata menetes di pipiku. Aku ingin marah, tapi aku mengingat bahwa ini adalah bulan Ramadhan. Lagipula aku tidak pernah bisa marah kepada Novri. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk mengirimkan SMS kepada Novri. Kujelaskan kepadanya bahwa aku sudah mengetahui kebohongannya. Aku kecewa sekaligus sedih. Aku pun menanyakan keseriusannya padaku dan isi hatinya sehingga aku tahu caraku untuk menempatkan diri dalam hidupnya. Aku tidak mau jika dia memilihku hanya karena terpaksa atau hanya ingin mendapatkan status pacar dariku saja.
Tidak lama kemudian Novri membalas dan mengatakan bahwa dia menyayangiku dengan setulus hatinya. Aku merasa lega membaca SMS itu. Untukku kata-kata itu sudah cukup untuk membuatku yakin bahwa dia serius untuk memilihku dan aku tahu cara menempatkan diriku di dalam hidupnya.